Minggu, 05 Juni 2016

MIMPIMU, MILIKMU..


Dipagi hari yang cerah, dimana matahari mulai memancarkan panasnya, seorang ibu yang tengah hamil besar duduk seorang diteras rumahnya, ditemani alunan musik klasik yang lembut. Sembari menikmati hangatnya mentari, dia melihat anak-anak kecil yang berlarian bersama teman-temannya, pikirannya menerawang, akan menjadi apakah anakku kelak? akan menjadi seperti apakah dia? Seperti apa sifatnya? Apa ya hobby nya? Tangan nya mengelus mesra sang buah hati dalam perutnya. Dia sangat sadar bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Dia akan bertanggung jawab akan kehidupan anaknya. Dia akan mencetak generasi penerus bangsa. Lalu kembali dia berpikir, dan berhipotesis bahwa perlakuannya terhadap anaknya kelak lah yang akan membentuk diri si anak, orang tua atau keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, hampir lebih dari 90% kepribadian seorang anak terbentuk dari dalam keluarga.
Jika benarlah hipotesis si calon ibu tersebut, maka apakah yang harus kulakukan? Pikirnya keras. Menjadi orang tua seperti apa yang mampu membawa seorang anak menjadi pribadi yang sesuai dalam khayalannya, anak yang mencintai dan takut kepada Tuhannya, anak yang menghormati orang tuanya, anak yang berprestasi di sekolahnya, anak yang pandai bersosialisasi dengan temannya.
Setiap orang tua memiliki harapan dan cita-cita tinggi untuk anaknya, keinginan hatinya hanyalah keinginan mulia bagi si buah hatinya. Maka, dia bertekad untuk memberikan sebuah pendidikan yang baik bagi anaknya, pendidikan yang mengantarkan si anak pada mimpinya. Mimpi merupakan sebuah penyemangat diri, pembakar semangat dan penyulut kekuatan. Mimpi yang dimiliki seorang anak seharusnya dijaga dan diarahkan kepada sebuah jalan yang mengantarnya kepada sang mimpi.  
Maka, si ibu menetapkan dirinya menjadi orang tua yang tidak egois, dia menyadarkan dirinya bahwa setiap manusia berbeda dan memiliki potensi yang berbeda-beda pula.  Dia tidak ingin menyetir kehidupan sang anak, namun juga tidak serta-merta membebaskan anak sebebas-bebasnya. Orang tua seharusnya paham, atau mau memahami si anak, apa kegemarannya, dimana minatnya, dan apa saja yang merupakan bakatnya. dari pengetahuan-pengetahuan tersebut, akan lebih baik lagi jika orang tua turut serta mengarahkan si anak kepada jalan yang mendekati mimpi-mimpinya, sekalipun harapan dan rancangan orang tua begitu hebat, orang tua tidak berhak mengikis mimpi seorang anak.

Orang tua bukanlah pemilik dari seorang anak, karena anak adalah titipan indah yang diberikan padanya, bukan dengan menduplikasi cita-cita orang tualah seorang anak dibentuk, namun menjadi jalan meraih mimpi lah orang tua seharusnya hadir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar